Rabu, 25 Januari 2012

Rejeki

Dalam kehidupan kita sehari-hari sering kali kita merasakan betapa nikmatnya mendapatkan rezeki terlebih lagi rezeki yang besar dan sangat besar. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kata “rezeki” lebih condong ke arah materi berupa uang, makanan dan segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan. Singkat kata rezeki itu sesuatu yang menguntungkan dan menentramkan bagi kehidupan kita. Manusia akan selalu menganggap rezeki itu berbentuk sebuah materi, itu bisa terjadi karena rezeki yang berbentuk materi lebih mudah terlihat dan mudah dirasakan oleh panca indra, misalkan kita mendapatkan uang tambahan dari bos tempat kita kerja, mungkin saat itu bos kita lagi ingin beramal dan banyak contoh-contoh kongkret lainnya dari rezeki materi, rezeki berbentuk materi sangat jelas dan gamblang di telaah oleh otak kita. Tapi ada satu hal yang harus kita telaah selain rezeki materi, apa itu? Itu adalah rezeki batin yang bersifat abstrak tapi bisa dirasakan dengan menggunakan alat yang bernama hati. Rezeki batin merupakan sesuatu yang dapat memelihara batin kita supaya batin tetap tentram, adem ayem dan tenang dalam menghadapi gejolak duniawi. Terkadang ada orang yang berkecukupan dalam hal materi tetapi batin-nya tidak tenang pun sebaliknya ada orang yang materinya pas-pas-an tetapi batin-nya tenang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa,

“Kekayaan tidak terletak pada banyaknya materi tetapi terletak pada rasa cukup”

pepatah ini merupakan manifesto dari rezeki batin yaitu berupa rasa cukup dan derajat-nya lebih tinggi dari rezeki materi. Oleh karena itu saya membuat istilah rezeki level satu dan rezeki level dua, dimana rezeki level satu itu adalah rezeki materi dan rezeki level dua itu adalah rezeki batin. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, rezeki materi sangat mudah dirasakan dan terkadang hal yang mudah-pun sering kita lupa untuk bersyukur kepada Al-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki) apalah lagi dengan rezeki batin mungkin kita jarang ataupun tidak terlintas sama sekali untuk mensyukuri rezeki batin yang kita dapatkan. Salah satu cara untuk menelaah rezeki batin yaitu dengan mengingat pepatah,

“Sering-seringlah melihat ke-bawah, jangan melihat ke-atas terus”

Pepatah ini mencoba mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri keadaan kita apapun yang terjadi pada diri kita. Kondisi kita selalu akan berada di-tengah, tidak ada manusia di-dunia ini yang kondisinya dibawah ataupun di-atas. Jika kita ingin meningkatkan semangat kerja, lihatlah orang-orang yang di-atas kita, pun sebaliknya kita juga harus banyak bersyukur dengan melihat orang-orang yang ada di-bawah kita. Di lapangan dapat ditemui banyak sekali orang-orang yang melihat ke-atas dan jarang atau tidak sama sekali melihat orang-orang dibawahnya, oleh karena itu munculnya satu pepatah lagi,

“Di atas langit masih ada langit”

Pepatah ini untuk mengingatkan orang-orang yang selalu melihat ke-atas supaya sadar bahwa sampai akhir hayatnya manusia tetap akan selalu berada di-tengah. Semoga bermanfaat.

Jumat, 11 Maret 2011

Masalah

Setiap orang pasti punya masalah, itu pasti dan sangat pasti. Masalah datang tidak memandang tua dan muda, tidak memandang kaya dan miskin, tidak memandang pintar dan bodoh, tidak memandang atasan dan bawahan pun tidak memandang rupa yang menarik. Dia datang bak seorang panglima perang yang membawa serta merta perlengkapan perang dan pasukannya untuk bertarung di medan kehidupan. Target utama yang diincar oleh sang panglima adalah manusia, ya manusia seperti kita-kita ini. Tak pelak lagi si manusia-pun bersungut-sunggut melakukan persiapan lahir batin untuk menghadapi panglima perang dan kadangkala persiapannya tidak teroganisir dengan baik, tergesa-gesa, ceroboh, gundah gulana serta tak tahu harus berbuat apa. Tapi ada juga yang sudah siap bahkan sangat siap dan sudah punya peralatan perang yang lengkap serta taktik dan strategi yang jitu untuk menghadapi panglima perang. Demikianlah pertempuran sebentar lagi akan dimulai dan genderang perangpun meraung-raung.

Masalah yang datang sangat beragam ada yang besar ada yang kecil, ada yang lama ada yang sebentar, ada yang terlogika ada yang tanpa logika dan kesemuanya itu harus dihadapi dan tidak bisa dihindari. Oleh karena itu Al-Quran sebagai petunjuk dan berisi pengetahuan tanpa batas telah memberikan aba-aba bagaimana caranya meminta pertolongan kepada Allah untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi. Dari sekian banyak ayat-ayat Allah yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah, penulis cuma mengutip dua buah ayat yang diambil dari surat Al-Baqoroh ayat 45 dan 46.

Bismillahirrohmaanirrohiim,

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' (Q.S – 2 : 45)

(khusyu’ yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya(Q.S – 2 : 46)

Dari dua ayat di atas sangat jelas dan gamblang bahwa kita dapat ditolong oleh Allah jika kita punya dua senjata sakti yaitu sabar dan sholat. Memang kata-kata sabar dan sholat sangat mudah sekali diucapkan, dituliskan serta di ingat akan tetapi pelaksanaannya kadang kala jauh api dari panggang. Allah sudah tahu itu makanya dituliskan kalimat “sungguh berat”,  akan tetapi Allah juga memberikan tip dan trik biar sholat dan sabar itu tidak berat yaitu dengan menjadi orang yang khusyu’, siapakah orang yang khusyu’ itu? Yaitu orang-orang yang yakin bahwa mereka akan menemui dan kembali kepada Allah. Kata-kata yakin disini perlu dipertegas karena yakin disini sangat dalam maknanya dan cuma Allah dan manusia yang bersangkutan yang bisa mengetahuinya. Semoga bermanfaat.

Kamis, 08 April 2010

Kebenaran Hakiki

Pernah suatu kali saya termenung dan dalam ketermenungan saya itu terlintas dalam pikiran bagaimana asal muasal kejadian manusia dan makhluk lainnya diseantero jagad raya ini. Setiap agama, ilmu dan keyakinan yang ada dimuka bumi ini punya cara dan kata sendiri-sendiri dalam menjelaskan makna "keberadaan" seluruh bentuk materi mikro dan makro di alam ini. Walaupun terdapat keberagaman berpendapat dalam menyampaikan "keberadaan" pada hakekatnya "kebenaran" akan selalu dimiliki oleh Tuhan bukan oleh makhluknya.

Tidak dahulu, pun sekarang persoalan umat manusia masih berkisar antara 3K yaitu Kekuasaan, Kekayaan dan Kelamin, berputar-putar tidak ada pangkal dan ujung sampai hari kiamat. Kitapun sudah sering mendengar, membaca dan melihat kejadian-kejadian yang sering berulang dan seringkali berpangkal pada yang tiga tadi. Lah apa hubungannya antara kebenaran dengan tigak (maksudnya 3K) ? sangat jelas dan terlihat sekali hubungannya, tigak itu selalu menghalangi manusia untuk melihat kebenaran ilahiah dan selalu digunakan manusia untuk membela kebenaran sepihak dari golongannya. Kekuasan pemikiran merupakan salah satu jalan yang dibuat oleh syaitan untuk golongan-golongan yang merasa benar. Mereka (para golongan tadi) telah merasa berkuasa dengan ilmu dan kebenaran yang dimilikinya sehingga menganggap kebenaran orang lain adalah kebenaran semu, padahal dunia inipun semu (bagi mereka yang berfikir). Ilmu Allah sangatlah luas, dan Allah adalah Maha Pemilik Kebenaran. Yang dapat menentukan benar tidak hanyalah Allah semata. Oleh sebab itu marilah kita berfikir secara mendalam dan jangan asal mengikuti saja, kebenaran akan selalu datang dari dalam diri dan bukan dari luar diri.

Kebenaran harus disikapi dengan melihat diri kita sendiri yaitu dengan melihat kesalahan-kesalahan yang terdapat pada diri. Manusia itu sarangnya para syaitan dan pangkal setiap kejahatan yang ada dimuka bumi ini. Akan tetapi Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dengan ke-Maha-annya tadilah kita dapat bersih dari kotoran yang dibuat oleh syaitan dan bisa memberikan harapan untuk selalu meminta kasih dan sayang dari Allah. Tahukah kalian apa itu hati yang keras? Yaitu hati yang selalu disibukkan dengan melihat orang lain dan lupa dengan dirinya sendiri. Saking sibuknya, diapun lupa untuk mengingat Allah yang memiliki “kebenaran”. Jika kita memang mengingat Allah maka kita akan tunduk dan patuh dengan “kebenaran” yang dibuat oleh Allah. Ingatlah bagaimana awal kejadian manusia dari tiada menjadi ada. Sebelum manusia ada siapa yang ada? Siapa yang kuasa untuk melakukan sesuatu? Apakah manusia memiliki kuasa? Marilah kita koreksi diri kita dan bercerminlah dengan cermin kebenaran supaya kita bisa memahami makna dari penciptaan kita dan keberadaan kita dimuka bumi ini (yang sementara).